Perempuan yang cemas dan cemburu dua kali lebih cenderung menderita Alzheimer ketika tua.
JAKARTA – Lagi-lagi, studi menunjukkan memelihara perasaan negatif buruk bagi kesehatan mental perempuan. Jurnal Neurology mengungkapkan larut dalam kekhawatiran tidak hanya membuat perempuan sulit tidur, tapi meningkatkan risiko terkena Alzheimer.Kaum hawa yang cemas, cemburu, dan perasannya naik turun di usia pertengahan dua kali lebih mungkin menderita sakit otak di usia tua dibandingkan rekan-rekannya yang lebih tenang.
Alzheimer dan jenis lain dari demensia atau kepikunan menimpa 800.000 orang Inggris. Di seluruh dunia, diperkirakan angka penderita Alzheimer meningkat menjadi 44 juta pada 2050, menurut Daily Mail, Kamis (2/10). Di Indonesia, sekitar satu juta penduduk menderita penyakit alzheimer menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2011. Dengan kondisi seperti ini, dapat diprediksi pada 2050 penderita Alzheimer di Indonesia bisa mencapai tiga juta kasus.
Studi melakukan tes kepribadian terhadap 800 perempuan yang berusia akhir 30-an, 40-an, dan awal 50-an. Para partisipan antara lain ditanyai tentang gangguan syarat atau neuortis—yang ditandai dengan kecemasan, cemburu dan mudah putus asa dan terlilit perasaan bersalah. Mereka juga dikorek tentang tekanan dalam pekerjaan, rumah atau kesehatan mereka, dan survei diulang setiap lima tahun.
Ketika studi berakhir setelah 38 tahun, 153 perempuan mengalami demensia. Nah, mereka yang mencatat skor paling tinggi dalam neurosis pada usia pertengahan, terutama yang terserang penyakit ini, tapi hanya jika mereka berada di bawah tekanan dalam jangka panjang.
Penderita neurosis yang juga pemalu dan tertutup yang paling tinggi risikonya, menurut para penelitian. Mereka yang mengalami neurosis merasa lebih stres dan ini bisa sampai ke otak. Bisa jadi mereka juga memiliki gaya hidup yang kurang sehat.
“Sebagian besar riset Alzheimer menyasar faktor risiko seperti pendidikan, jantung, dan darah, trauma kepala, riwayat keluarga, dan genetik,” kata Lena Johannsson, penulis utama studi. “Kepribadian dapat mempengaruhi risiko demensia melalui efek dalam perilaku, gaya hidup dan reaksi terhadap stres.”
Sumber : Sinar Harapan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar